Dimeriahkan dengan pengumuman pemenang SFPP 2026 dan pemutaran film Atlas of the Universe dari Rumania.
Jakarta, Suaramerdekanews.com, 17 Juni 2026 – Festival film tahunan Europe on Screen (EoS) 2026, resmi ditutup pada di Jakarta. Selama sebelas hari, Europe on Screen mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan pencinta film di delapan kota, yaitu Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, Semarang, Sidoarjo, dan Yogyakarta.
Di edisi ke-26, EoS menjadi festival film internasional tertua yang masih berlangsung di Indonesia dan menghadirkan akses gratis menonton film-film Eropa kontemporer sambil memperkuat pertukaran budaya antara Indonesia dan negara-negara Eropa. Edisi tahun ini menghadirkan 55 film dari 28 negara Eropa yang menampilkan beragam perspektif, budaya dan cerita yang merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan, keberagaman, serta dinamika kehidupan masyarakat Eropa masa kini.
“Europe on Screen menunjukkan kekuatan film sebagai jembatan antarbudaya, memperluas perspektif dan menginspirasi dialog bermakna. Melalui cerita dari berbagai penjuru Eropa, kami melihat penonton Indonesia menyambut dengan rasa ingin tahu, keterbukaan dan antusiasme yang tinggi. Selain menampilkan karya sinema yang luar biasa, festival ini juga menyoroti kekayaan keberagaman, kekuatan kreativitas, serta eratnya kemitraan antara Uni Eropa dan Indonesia,” ujar Bapak Denis Chaibi, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.
Terpilih sebagai film penutup EoS 2026, Atlas of the Universe (Atlasul Universului) merupakan film drama coming-of-age dari Rumania yang mengikuti perjalanan seorang anak kecil dalam memahami dunia di sekelilingnya. Dengan sudut pandang yang hangat, puitis dan penuh rasa ingin tahu, film ini menghadirkan refleksi tentang masa tumbuh dewasa, keluarga, serta cara manusia memaknai kehidupan.
Disutradarai oleh Paul Negoescu, film ini tayang perdana di Berlinale 2026 dalam program Generation Kplus, sekaligus menjadi film produksi Rumania pertama yang terpilih dalam program tersebut. Film ini juga menerima Honourable Mention dari International Jury untuk kategori Best Film Generation Kplus, di mana salah satu anggota dewan jurinya adalah sutradara muda Indonesia, Khozy Rizal.
“Merupakan kehormatan bagi kami melihat Atlas of the Universe menjadi film penutup Europe on Screen 2026. Film ini mengingatkan kita untuk menghargai cara anak-anak memandang dunia: dengan rasa ingin tahu, kejujuran, dan imajinasi yang sering terlupakan dengan bertambahnya usia. Saya berharap film ini mengajak audiens untuk kembali melihat dunia dengan perspektif yang lebih terbuka dan penuh empati,” ujar Bapak Dan Adrian Bălănescu, Duta Besar Rumania untuk IndoIndonesia.
Pengumuman Pemenang Short Film Pitching Project 2026
Selain pemutaran film penutup, acara Closing Ceremony EoS 2026 juga menjadi ajang pengumuman pemenang Short Film Pitching Project (SFPP) 2026, program yang didedikasikan untuk mendukung pengembangan ide film pendek dan mendorong lahirnya talenta-talenta baru perfilman Indonesia.
Tahun ini, dewan juri SFPP terdiri dari Marlina Machfud (Pamong Budaya Perfilman Kementerian Kebudayaan RI), Asmara Abigail (aktris dan produser), serta Ifan Ismail (penulis skenario).
Meninaputri Wismurti, Ko-Direktur EoS 2026, mengatakan, “Ide-ide cerita film pendek yang terpilih menunjukkan keberanian dalam mengangkat isu penting dalam kehidupan masyarakat kita, dengan pendekatan sinematik yang segar dan personal. Melalui SFPP, kami ingin memberi ruang bagi para pembuat film muda untuk mengembangkan gagasan, memperluas jejaring profesional, dan membawa cerita-cerita baru yang relevan kepada khalayak yang lebih luas.”
Sementara itu, Giring Ganesha Djumaryo, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan akan terus mendukung program seperti SFPP EoS agar perfilman Indonesia dapat menjangkau penonton internasional.
“Fokus utama kami adalah berinvestasi pada talenta muda karena masa depan sinema Indonesia ada di tangan mereka. Oleh karena itu, kami bangga mendukung Short Film Pitching Project Europe on Screen. Kementerian Kebudayaan akan terus memperkuat program-program seperti ini agar kisah-kisah lokal kita dapat berkembang dan menjangkau penonton internasional,” jelasnya.
Berikut para pemenang SFPP EoS 2026 beserta hadiah yang diterima:
1. Pemenang pertama:
Lunchtime Monsters karya Gerry Fairus and Dhita Intani, Jakarta
Nilai total hadiah: Rp39.675.000 yang terdiri dari:.
● Dana produksi parsial senilai Rp17.000.000 dari Europe on Screen.
● Dana produksi parsial senilai Rp6.175.000 dari Kementerian Kebudayaan RI.
● Dana produksi parsial senilai Rp5.000.000 dari SAE Indonesia.
● Fasilitas pasca-produksi audio senilai Rp.10.000.000 dari SAE Indonesia.
● 2 (dua) voucher perawatan senilai Rp1.400.000 dari Annathaya Spa & Wellness.
Menurut dewan juri, proyek ini menonjol karena keberhasilannya memanfaatkan elemen horor dan fantasi untuk mengangkat isu-isu sosial secara kreatif.
2. Pemenang Kedua:
Catatan Si Kumal karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya, Sidoarjo
Nilai total hadiah: Rp34.575.000 yang terdiri dari:
● Dana produksi parsial senilai Rp11.000.000 dari Europe on Screen.
● Dana produksi parsial senilai Rp6.175.000 dari Kementerian Kebudayaan RI.
● Dana produksi parsial senilai Rp5.000.000 dari SAE Indonesia.
● 2 (dua) kali sesi penulisan naskah Kursus Scriptwriting senilai Rp11,000,000 dari SAE Indonesia.
● 2 (dua) voucher perawatan senilai Rp1.400.000 dari Annathaya Spa & Wellness.
Menurut dewan juri, ide ini mengeksplorasi cara berkisah dalam keterbatasan film pendek yang membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar maksimal.
3. Pemenang Ketiga:
Karina in Male Dominated Field by Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma, Tangerang
Nilai total hadiah: Rp27.075.000 yang terdiri dari:
● Dana produksi parsial senilai Rp9.000.000 dari Europe on Screen.
● Dana produksi parsial senilai Rp6.175.000 dari Kementerian Kebudayaan RI.
● Dana produksi parsial senilai Rp5.000.000 dari SAE Indonesia.
● 2 (dua) kali sesi penulisan naskah Kursus Scriptwriting senilai Rp11,000,000 dari SAE Indonesia.
● 2 (dua) voucher perawatan senilai Rp1.400.000 dari Annathaya Spa & Wellness.
Menurut dewan juri, proyek ini berhasil mengangkat isu kesetaraan gender dan male gaze melalui perspektif anak yang segar dan imajinatif.
Festival EoS 2026 kembali menunjukkan perannya sebagai wadah pengembangan sineas muda Indonesia melalui program SFPP. Tahun ini, SFPP menerima 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, 10 finalis terpilih mempresentasikan ide filmnya di hadapan dewan juri untuk memperebutkan tiga posisi pemenang.
“Selama sembilan tahun penyelenggaraannya, SFPP telah berkembang menjadi salah satu program penting dalam ekosistem Europe on Screen. Film-film yang lahir dari SFPP telah diputar dan mendapatkan apresiasi di berbagai festival film nasional maupun internasional. Kami berharap SFPP dapat terus menjadi batu loncatan bagi generasi baru sineas Indonesia untuk memperkenalkan karya mereka kepada khalayak yang lebih luas,” ujar Nauval Yazid, Ko-Direktur EoS 2026,
Seiring berakhirnya EoS 2026, festival ini meninggalkan bukan hanya pengalaman sinematik yang berkesan, tetapi juga peluang baru untuk dialog, kolaborasi dan pertumbuhan kreatif. Menyongsong edisi berikutnya, EoS menantikan kesempatan untuk kembali menyambut penonton dengan lebih banyak cerita yang menginspirasi, menantang dan menghubungkan masyarakat lintas budaya.





Comments are closed for this post.