JAKARTA, BANDUNG, YOGYAKARTA, SURABAYA, DENPASAR, MAKASSAR, MEDAN,SEMARANG — Suaramerdekanews.com, 24 Januari 2026, Jaringan kebudayaan Kedutaan Besar Prancis, Institut frangais d’Indonesie IFI) dan Alliance frangaise (AF) menyelenggarakan Nuits de Ia lecture atau “Malam Membaca” dari 21 hingga 25 Januari 2026, di delapan kota di seluruh Indonesia : Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, Medan, dan Semarang. Tema yang diambil pada edisi Malam Membaca 2026 adalah “Kota dan Desa,” yang mengeksplorasi hubungan antara wilayah, identitas, dan imajinasi melalui sastra. Acara ini bertransformasi menjadi platform yang mempertemukan penulis, seniman, dan kreator, serta mendorong dialog budaya baru. Diluncurkan di Prancis pada tahun 2017 oleh Kementerian Kebudayaan Prancis, Malam Membaca adalah inisiatif global yang mendorong kesukaan membaca melalui acara-acara inklusif dan kreatif.
Di Indonesia, jaringan kebudayaan Prancis menawarkan program yang beragam, menggabungkan pembacaan depan publik, diskusi dengan penulis, lokakarya, pertunjukan, dan pemutaran film, baik luring maupun daring, merayakan kegembiraan
membaca dalam segala bentuknya, untuk semua selera dan usia.
Ayo Baca! hingga Choix Goncourt Indonesia, sebuah visi bersama:
Dari mempromosikan membaca sebagai kesenangan bersama, dinamis, dan mudah diakses bagi semua orang.
Melalui inisiatif nasional ini, Malam Membaca 2026 menegaskan kembali ambisinya untuk
memperkuat dialog antarbudaya dan mempromosikan membaca sebagai kesenangan bersama, dinamis, dan mudah
diakses bagi semua orang. Di luar acara unggulan ini,
Kedutaan Besar Prancis — IFI terus mempromosikan sastra sepanjang tahun, memanfaatkan kesuksesan program
AYO BACA! dan terjemahan Indonesia dari “Novel Prancis Favoritku” tahun lalu, serta memperluas ambisinya dengan peluncuran Choix Goncourt Indonesia di tahun ini. Yakin bahwa kerja sama di bidang buku dan membaca sama pentingnya dengan bidang kolaborasi lainnya, Kedutaan Besar Prancis — IFI menempatkan sastra di pusat pendidikan, pertukaran budaya, dan pemikiran kritis. Komitmen ini mencerminkan budaya membaca Prancis yang kuat, yang menempati peringkat keempat di dunia dalam rata-rata jumlah buku yang dibaca per tahun,
menurut CEOWORLD.
Membaca nyaring dan suara utama sastra Indonesis kontemporer
Untuk peluncuran Malam Mernbaca 2026 pada 22 Januari, IFI Jakarta menyelenggarakan acara baca bersama multibahasa di Mediatek Sebagai bagian dari Klub Buku bulanan IFi, peserta diajak untuk membaca dan membacakan kutipan sastra favorit mereka dengan nyaring, dalam bahasa Prancis, Indonesia, atau bahasa lam, yang merupakan momen interkultural dan pertukaran multibahasa yang menyenangkan Keesokan hannya, 23 Januari, dua tokoh utama sastra Indonesia kontemporer akan tampil Reda Gaudiamo, yang mempresentasikan novelnya “Na Willa” — saat mi sedang diadaptasi menyadi fiim yang akan segera dirilis oleh sutradara JUMBO, Ryan Adriandhy — dukuti dengan lokakarya menulis, dan tokoh terkemuka dalam sastra Indonesia kontemporer, Eka Kurniawan, yang berpartisipasi dalam diskusi malam eksklusif tentang topik-topik terkait perubahan sosial,
historis, dan budaya di Indonesia kontemporer, serta isu-isu regional
Acara ini juga menandai peluncuran buku anak-anak “Woven Worlds” yang menampilkan anyaman rotan Indonesia yang indah melalui cerita yang menyentuh, pada 24 Januari. Peluncuran buku ini dukuti oleh pembacaan buku oleh tiga narator dan serangkaian lokakarya kreatif untuk anak –
anak, termasuk pembuatan kerajinan rotan, hiasan croissant, dan pembuatan kartu pos Program khusus mi diselenggarakan bersama oleh Milou (merek furnitur Indonesia-Prancis yang berpusat di Jakarta) Kinderkloud (perusahaan pendidikan dan kreatif asal Indonesia yang berfokus
asal Indonesia yang berfokus pada perkembangan anak usia dini), dan program unggulan Kementerian Pariwisata “Wonderful Indonesia”
Tidak hanya di Jakarta, Malam Membaca juga diselenggarakan di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, dan Bali, menampilkan pembacaan bilingual,
Storytellng untuk anak-anak dan keluarga, pertemuan dengan penulis, serta pengalaman sastra kreatif yang berakar pada budaya lokal.





Comments are closed for this post.