Jakarta, Suaramerdekanews.com, 2 Agustus 2026, Ada kalanya sebuah karya tak cukup hanya dibedah lewat deretan informasi atau fakta, karena ia dirasa lebih butuh disampaikan dengan mengedepankan rasa yang ingin ditularkan sedari awal.

Sebab, ada beberapa lagu yang selesai ketika musiknya berhenti. Tetapi ada juga lagu
yang justru baru mulai bekerja setelah sunyi datang.
“Pertiwi” karya terbaru Yura Yunita, rasanya termasuk jenis lagu yang kedua.
Awalnya, ada keinginan untuk mencatat tentang musik, lirik, dan cara Yura
menyanyikannya.

Tapi beberapa menit setelah lagu selesai didengar, catatan itu tak
lagi penting. Yang tertinggal bukan pertanyaan tentang bagaimana lagu ini dibuat,
melainkan sebuah perasaan—seperti baru saja membuka pintu menuju ruang yang
selama ini sengaja kita hindari.
Di sana ada gelap yang pernah kita simpan. Ada kalimat yang bertahun-tahun hanya
sampai di tenggorokan.

Ada kemarahan yang dirapikan, dan kekuatan yang membuat
tangan gemetar saat akhirnya kita mencoba mengatakan apa yang kita percaya.
“Pertiwi” tidak meminta kita buru-buru keluar dari tuang itu. Ia memilih tinggal sebentar,
memeluk gelapnya, lalu perlahan menyalakan keberanian kecil untuk berkata, “mungkin
kali ini, kita tidak perlu diam.”

Ditulis oleh Donne Maula dengan notasi dari Yura, lagu ini lebur menjadi milik siapa
saja yang pernah kehilangan keberanian bersuara. Lewat sentuhan Iwan Popo sebagai
produser musik, aransemennya hadir megah, tetap tidak sibuk pamer. Keseluruhan
aransemen membiarkan perasaan tumbuh pelan-pelan hingga dada terasa penuh.

Suara Yura terdengar seperti seseorang yang tengah menjaga diri tetap tegak,
mengumpulkan sisa keberanian untuk berseru lebih keras.
Menariknya, lagu ini seolah tak ingin memiliki satu tafsir. Seseorang mungkin teringat
pada keadaan sekitarnya. Pada ibunya. Pada perempuan-perempuan yang memilih
diam.

Pada ketidakadilan yang tak sanggup dilawan. Atau, pada dirinya sendiri. Di masa ketika semua hal ingin segera dijelaskan, “Pertiwi” lebih baik dibiarkan sedikit liar
dan bertemu sendiri dengan pengalaman hidup pendengarnya.
Satu hal yang terasa jelas: lagu ini berbicara tentang keberanian dari seseorang yang
tangannya masih gemetar, suara masih bergetar, namun kali ini memilih tetap bicara.

Sebab kebenaran tak selalu keluar dari suara paling lantang. Kadang ia lahir dari
ketakutan yang memutuskan untuk tidak mundur lagi.
Rasa dari lagu ini juga akan diterjemahkan secara utuh melalui visual. Pada 2
September 2026, audionya akan rilis di berbagai streaming platform bersamaan dengan
peluncuran video musiknya.

Untuk mewujudkan hal ini, Yura tidak melangkah sendirian;
ia menggandeng nama-nama yang rekam jejak dan kepekaannya sangat dihormati,
Bersama Kathleen Malay di kursi sutradara dan Siko Setyanto sebagai koreografer,
kolaborasi dari mereka yang begitu piawai di bidangnya ini berhasil melahirkan sebuah
karya visual yang mengakar kuat pada emosi murni pendengarnya, namun tetap
dikemas dengan sentuhan eksekusi yang apik dan matang.
Maka, mungkin tidak perlu terlalu sibuk mencari tahu apa pesan pasti dari Yura Yunita.

“Dengarkan dan nikmati saja lagu dan video musiknya. Cari ruang yang sedikit sunyi,
biarkan lagunya selesai. Lalu tunggu beberapa detik dalam hening. Perhatikan siapa
yang muncul di kepala. Perhatikan bagian mana yang membuat dada kamu terasa
sesak.” pesan dari Yura untuk semua pendengarnya.
Ajakan Yura terasa valid, sebab “Pertiwi” sedang meminta kita untuk mendengarkan
kembali sesuatu di dalam diri yang sudah terlalu lama kita kecilkan suaranya.