Jakarta Suaramerdekanews.com, 4 Februari 2026. Di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ada cerita yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dirajut perlahan lewat benang-benang tenun. Bagi masyarakat adat Dayak Iban, menenun merupakan jalan untuk menjaga identitas, mengingat leluhur, dan merawat hubungan dengan alam.

“Bagi kami, tenun bukan sekadar produk kerajinan tangan, melainkan simbol identitas dan ekspresi nilai-nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Iban, yang memiliki makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal,” ungkap Magareta Mala, salah satu penggerak Festival Tenun Iban Sadap.

Nilai inilah yang ingin dibagikan kepada banyak orang, ketika Festival Tenun Iban Sadap yang pertama sukses digelar pertengahan Desember lalu. Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu, menguraikan, “Kami ingin menyampaikan kepada publik, festival ini merupakan tonggak penting dalam memastikan bahwa tradisi menenun itu masih ada, beserta nilai dan pengetahuannya.”

Bagaimana cara mereka menjaga tradisi yang merupakan warisan leluhur itu?

Selembar Kain Sarat Makna
Motif tenun Iban Sadap menyimpan makna mendalam. Ada kisah tentang alam dan roh leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mala menjelaskan, ada empat jenis tenun Iban, yaitu kebat, sungkit, pileh, dan sidan. “Tenun kebat dengan motif sakral menjadi tenun yang wajib dimiliki. Setiap motif tenun kebat mempunyai nilai tertentu, yang digunakan untuk kelahiran, juga suasana sukacita dan dukacita. Motifnya mencakup manusia, hewan, dan benda simbolis.”

Perempuan yang menenun sejak muda ini bersyukur, perhatian terhadap pelestarian tenun terus meningkat. Itulah kenapa ia dan komunitas penenun merancang paket tur tenun yang durasi dan programnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Ada paket beberapa hari saja untuk keperluan dokumentasi, ada pula paket bagi mereka yang ingin benar-benar belajar soal tenun Iban Sadap.

“Beberapa waktu lalu, mahasiswa dari Kuala Lumpur datang karena ingin memahami tenun secara utuh. Ia tinggal cukup lama, menyelami sejarah, proses, dan pulang dengan pengalaman dan hasil tenun buatan sendiri,” kata Mala, yang kerap menerima kunjungan dari pecinta wastra dari luar pulau.

Namun, sebenarnya yang paling diharapkan bukanlah banyaknya pengunjung, melainkan kesediaan untuk belajar dan menghargai proses. Sebab, memperkenalkan tenun memerlukan waktu panjang, sebelum sampai pada titik ketika orang datang bukan hanya untuk melihat, melainkan untuk memahami.

Dari Alam, Kembali ke Alam
Di setiap helai tenun Iban Sadap yang diwarnai secara alami, tersimpan cerita tentang hutan yang masih dijaga, sungai yang tetap mengalir, dan pengetahuan lokal yang terus hidup. Tenun menjadi pengingat bahwa melestarikan budaya tidak bisa dipisahkan dari melestarikan alam.

“Ketika melakukan aktivitas menenun, artinya kami juga memelihara bumi. Kami tidak akan memusnahkan tanaman-tanaman yang terkait dengan tenun. Karena, banyak sekali tanaman pewarna yang diambil dari alam di wilayah adat. Seandainya masyarakat sampai kehilangan wilayah adat, itu berarti mereka juga kehilangan tradisi, salah satunya tradisi menenun,” kata Tomo.

“Semua bahan baku untuk menenun disediakan oleh alam. Festival kemarin menunjukkan bahwa untuk membuat tenun, kami tidak bergantung pada siapa pun, kecuali diri sendiri dan alam. Peralatan tenun dibuat dari bambu, pewarna dari berbagai jenis daun, akar, dan kulit kayu,” kata Mala.

Itulah kenapa masyarakat adat Iban Sadap berkomitmen untuk tetap menjaga wilayah adat, agar tradisi menenun tetap terjaga. Mereka memahami, jika wilayah adat terjaga dengan baik, pengetahuan leluhur akan terus hidup. Karena itu, pengakuan dan perlindungan negara terhadap masyarakat adat, termasuk melalui pengesahan RUU Masyarakat Adat, menjadi penting.

Rumah Panjang Jadi Saksi Tradisi
Di sebuah rumah panjang, sejumlah perempuan adat, dari usia muda hingga lansia, tampak tekun menjalin helai-helai benang di ruang besar serupa aula. Ini bukan pemandangan langka di Desa Sadap. Kegiatan menenun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.

Bagi masyarakat adat Iban Sadap, rumah panjang yang terletak di tepi batang kanyau (sungai besar) itu bukan sekadar tempat berteduh. Rumah itu adalah cara hidup. Di dalam rumah panjang, hidup beberapa keluarga dalam satu atap, dipimpin oleh tuai rumah, figur yang bukan hanya mengatur kehidupan bersama, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, adat, dan alam.

“Rumah panjang membentuk hubungan sosial sangat erat. Bangunannya memanjang, dengan pembagian ruang yang jelas: ruai sebagai ruang bersama, bilik sebagai ruang keluarga, dan dapur di bagian belakang. Ruai menjadi jantung kehidupan. Di sanalah acara adat digelar, dan aktivitas harian, seperti menenun, dilakukan bersama. Di sini tenun bukan hanya dipelajari dan ditekuni, melainkan juga dihidupi,” kata Tomo.

Menariknya, di ruai, menenun menjadi semacam dorongan kolektif. Ketika satu orang menenun, yang lain terdorong untuk bekerja. Bukan persaingan yang saling menjatuhkan, melainkan persaingan yang memotivasi.

Penenun Muda Meneruskan Cerita
Regenerasi dalam melestarikan warisan budaya merupakan tantangan di banyak komunitas adat, termasuk melestarikan tenun Iban. Beruntung, masih ada sejumlah orang muda yang tergerak untuk belajar menenun. Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari, perempuan muda yang tekun menenun benang demi benang, di sela-sela kesibukannya bekerja.

Bagi Yosefa, menenun bukan sekadar keterampilan yang diwariskan, tetapi bagian dari hidup yang ia jalani setiap hari. Dalam satu hari, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menenun. Kapan pun ketika tak ada kegiatan, ia akan duduk tenang di balik alat tenunnya.

Lalu, apa menariknya kegiatan menenun bagi dia? “Seru kalau menenun ramai-ramai di ruai. Ketika ada teman menenun, saya jadi semangat untuk menenun juga. Seperti berlomba,” kata Yosefa, yang tergerak untuk belajar menenun karena sering melihat ibu dan neneknya menenun.

“Yosefa diharapkan bisa menjadi contoh bagi rumah panjang lain. Jika makin banyak orang muda yang bergerak, tenun Iban akan semakin terangkat, nilai wastra warisan leluhur juga kian terjaga,” kata Mala, menegaskan.