Jakarta, Suaramerdekanews.com, 5 Januari 2026 – Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur Asia Tenggara yang kian agresif mengejar pertumbuhan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: Bagaimana kita membangun tanpa merusak? Bagaimana arsitektur modern tetap menghormati identitas lokal sekaligus tangguh menghadapi krisis iklim?
Jawabannya mungkin terletak pada sebuah filosofi sederhana: “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi ini dengan lembut.
Prinsip ini diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, satu-satunya arsitek asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize, penghargaan tertinggi dunia arsitektur. Filosofi ini menjadi kompas bagi pergerakan arsitektur berkelanjutan di kawasan ASEAN. Murcutt menegaskan bahwa bangunan yang baik bukan yang mendominasi alam, melainkan yang beradaptasi dengannya, menghormati budaya lokal, dan meninggalkan jejak karbon seminim mungkin.
Dilema Pembangunan ASEAN: Ambisi dan Keberlanjutan
Asia Tenggara saat ini sedang berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, kawasan ini mengalami proses urbanisasi tercepat di dunia dengan proyeksi ratusan juta penduduk kota pada 2030. Di sisi lain, wilayah ini juga paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan permukaan laut hingga gelombang panas ekstrem.
Kondisi ini menuntut pendekatan arsitektur yang tidak lagi bisa mengandalkan pola lama build–demolish–rebuild. Diperlukan material dan desain yang tidak hanya estetik, tetapi juga adaptif, tahan lama, dan ramah lingkungan. Dalam konteks ini, evolusi teknologi material, termasuk baja modern, mulai memainkan peran penting.
Pelajaran dari Maestro: Makna “Sentuhan Lembut”
Filosofi “Touch this earth lightly” bukan sekadar wacana normatif. Prinsip ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam simposium arsitektur ASEAN di Jakarta akhir November lalu. Dalam forum tersebut, Ar. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation Australia membedah bagaimana filosofi tersebut bisa diterjemahkan secara kontekstual di Asia Tenggara yang kaya akan keragaman budaya.
Simposium bertajuk “Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design,” itu menghadirkan sekitar 190 pakar arsitektur dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia. Mereka berkumpul untuk satu misi: merumuskan masa depan arsitektur kawasan yang tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga berakar pada kearifan lokal.
Ar. Budi Pradono, arsitek senior Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang turut hadir, menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara. “Kemitraan ini menegaskan vitalitas aliansi regional kita dan akan memotivasi komunitas arsitek ASEAN menuju pencapaian yang lebih berani dan berdampak,” ujarnya.
Sementara itu, Ar. Steve Woodland dari COX Architecture Australia yang menjadi keynote speaker dalam forum tersebut, turut membahas bagaimana teknologi material modern seperti baja berlapis bisa menjawab tantangan arsitektur masa depan yang semakin kompleks di masa depan.
Baja sebagai Medium, Bukan Tujuan
Salah satu gagasan menarik dari forum tersebut adalah pergeseran paradigma dalam memandang material baja. Tidak lagi dipandang sebagai simbol modernitas yang monoton dan impersonal, baja kini dilihat sebagai medium untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni menciptakan harmonisasi yang selaras antara manusia dan alam.
Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menjelaskan bahwa material baja modern memiliki karakteristik yang sejalan dengan kebutuhan arsitektur berkelanjutan. “Material ini bisa didaur ulang, fleksibel untuk berbagai desain, dan tangguh menghadapi kondisi iklim ekstrem. Kualitas tersebut sangat dibutuhkan ASEAN saat ini,” ujarnya.
Kemampuan baja untuk didaur ulang hingga 100% tanpa kehilangan kualitas menjadikannya pilihan masuk akal dalam konteks ekonomi sirkular yang kini digalakkan ASEAN. Fleksibilitasnya juga memungkinkan desain yang lebih responsif terhadap kondisi lokal, mulai dari ventilasi alami untuk iklim tropis hingga struktur yang tahan gempa.
Momentum Perubahan: Steel Architectural Awards ASEAN 2026
Forum tersebut sekaligus juga menandai peluncuran program Steel Architectural Awards ASEAN 2026, sebuah kompetisi yang terbuka untuk menampung karya-karya inovatif dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Program ini mencakup berbagai kategori mulai dari hunian, komersial, infrastruktur hingga bangunan institusional.
Jenny menyatakan antusiasmenya terhadap program ini. “Penghargaan ini mengakui pencapaian bagi para arsitek yang telah merekomendasikan produk kami di balik beragam struktur inovatif di wilayah ASEAN, sekaligus memperdalam kolaborasi kami dengan komunitas desain Australia untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pertumbuhan profesional di seluruh wilayah,” ujarnya.
Penilaian tidak hanya berdasarkan estetika, tetapi juga bagaimana proyek tersebut merespons konteks lokal, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, dan memberikan dampak jangka panjang bagi komunitas.
Dewan juri kompetisi ini terdiri dari para ahli arsitektur terkemuka seperti Ar. Firman Setia Herwanto (Wakil Ketua IAI), Ar. Asae Sukhyanga (Presiden ASA), serta akademisi dan praktisi dari Vietnam, Malaysia, dan Australia, akan menilai sejauh mana sebuah karya berhasil mewujudkan visi “resilient futures” atau masa depan yang tangguh dan bertanggung jawab.





Comments are closed for this post.